Sekarang, Saatnya Mengubah Dunia!

>>>>>> <<<<<< ****** Tidak Ada Yang Gratis DI Dunia, TEBUSANNYA ADALAH PENGORBANAN, KESUNGGUHAN, DAN YANG UTAMA IMAN

Ludah-Ludah Mobil

Jumat, 03 Juni 20111komentar


Ludah-Ludah Mobil
Ludah-Ludah Mobil

Siang mulai merangkak pelan, mendekati waktu-waktu dimana kegelapan mulai menutup bumi. Panas matahari masih saja menyengat kulit-kulit yang mencoba menantang cahayanya, namun sedikit orang yang berani melawan panasnya, kecuali mereka yang memang memiliki rutinitas untuk kepentingan memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan hidup yang sekian hari demi hari seolah semakin mencekik, hingga hendak matipun rasanya tak segan, buktinya seminggu terbukti puluhan kasus bunuh diri di Indonesia.
Ah! Apa peduliku pada mereka yang tak kuat menanggung hidup. Yang kutahu, aku bekerja untuk menyambung hidup.
“Man! Capek aku, dari dulu menyopir selalu begini. Macet tiap waktu, sebenarnya apa pekerjaan anggota DPR sih?” Bejan yang kebetulan sedang menyetir uring-uringan karena macet. Saat ini, dia yang menyetir dan aku keneknya, kita selalu bergantian menyetir truk, membawa barang kiriman Lampung – Jawa dan sebaliknya.
“Tak usah kau pedulikan hal itu Jan, yang penting kita menyelesaikan tugas kita dan pulang membawa uang untuk keluarga kita.”
Namaku Rohman, aku bekerja sebagai sopir pengangkut barang setiap harinya. Sebenarnya, aku juga ingin protes pada pemimpin negeri ini, tapi kurasa tak ada gunanya. Sudah berapa kali perjalanan dari Lampung Tengah menuju Bakauheni ini truk kami macet, mulai dari jalan yang rusak, maupun kecelakaan yang menyebabkan jalur jalan harus sabar bergantian, apalagi kendaraan bermotor yang tidak sabaran yang saling kebut mendahului. Itulah rutinitas kami, jarang dipotret orang, namun selalu menjadi bahan menarik dalam berita ketika kecelakaan terjadi.
Mobil-mobil merangkak sangat pelan, jalan lima meter berhenti lagi dan berhenti lima hingga sepuluh menit, untuk kemudian merangkak lagi. Sayup-sayup dari kejauhan kulihat orang ramai di depan sana, berdiri dan berjalan di antara mobil-mobil. Terlihat ada yang membawa ember hitam kecil, dan ada yang memegang cangkul. Jangan-jangan...
Sial! Mereka lagi...
Selalu..., itu yang aku benci dalam perjalanan menjadi sopir.
*  *  *
Giliran kami memasuki area lubang. Sepanjang jalan banyak lubang, namun dengan bantuan orang-orang yang ingin disebut baik hati, mereka ramai menutupi lubang-lubang jalan dengan tanah, batu kecil, apa saja asal lubang terlihat ditutupi. Kebaikan mereka pun terbalas, sopir-sopir mobil memberi mereka imbalan, seribu rupiah setiap mobil.
Masalahnya adalah, lubang demikian banyak dan tempat orang meminta uang bisa mencapai 30-an orang hingga sampai ke Bakauheni nanti. Bagi sopir yang tidak memberikan uang, bersiap-siaplah menerima hujatan dari para manusia baik hati yang menutup lubang-lubang jalan seadanya itu. Atau, bersiaplah pula mobil-mobil kami menerima semburan ludah-ludah angkara murka.
“Seribu Mas! Dan selamat jalan,” senyumnya simpul, lelaki kecil yang mungkin baru berumur sebelas tahun itu ikut-ikutan bersama orangtuanya yang membawa cangkul di atas pundaknya, mencoba memperlihatkan usaha kerasnya menutup jalanan yang berlubang.
Aku memberinya uang seribu rupiah, dan mobil kami merangkak pelan kembali, menunggu antrean menghindari lubang-lubang yang baru saja ditambal.
“Kenapa kau beri bocah itu Man, menghabiskan uang saja,” Bejan kembali menggerutu.
“Aku kasihan padanya Jan, itu tadi uang seribuan satu-satunya. Aku tak punya lagi uang seribuan.”
“Kau ini, lebih baik kau simpan uang itu untuk anak-anakmu, dan biarlah mereka mencaci maki kita, kita biarkan saja.” Aku diam, tak menanggapi lagi perkataannya yang semakin lama semakin tak terdengar karena bunyi kendaraan dan teriakan-teriakan manusia memekakkan telinga.
Selanjutnya, jadilah kami menerima hujatan demi hujatan. Diam tanpa ekspresi, kecuali tangan kami melambai, tanda tak akan memberikan uang kebaikan mereka karena membantu perjalanan kami. Jadilah hunjaman demi hunjaman ludah tiap orang memenuhi mobil kami menimpali lendir-lendir ludah yang dulu telah tercipta, berlumuran penuh lendir, menempel di bak mobil, di setiap tempat  yang bisa mereka keluarkan sebagai tanda bahwa mereka berkuasa atas wilayah tersebut.
*  *  *
Kami telah menurunkan barang-barang dari truk. Kali ini kami membawa beras untuk dikirim ke Tangerang, tidak terlalu jauh, hingga kami bisa pulang lebih cepat dari biasanya.
“Kita makan dahulu yuk Man,” Bejan terlihat sudah kelaparan karena menurunkan beras-beras tadi.
“Baiklah Jan, tapi kita makannya di warung biasanya ya, yang dekat pencucian mobil, sekalian nanti lebih cepat, dua hal sekalian.”
“Terserah kau saja.”
Kami berhenti di pinggir terminal, disana ada warung makan yang sebelahnya ada steam. Kami berhenti di steam, lalu kami makan di warung.
“Seperti biasa kan?” lelaki berbaju setengah basah yang sedang mencuci motor itu menyapaku.
“Iya, seperti biasa.”
Seperti biasa adalah, mencuci mobil truk yang kami bawa, namun jangan membersihkan ludah-ludah lendir yang menempelinya. Bejan setuju dengan usulku, dengan begitu, ludah-ludah yang menempel di mobil akan terlihat sudah ada, maka para penambal jalan yang meminta upah akan sanksi untuk meludahi  mobil kami karena mobil kami sudah penuh dengan lendir ludah-ludah mereka sendiri, mereka pasti mengira bahwa dia sudah diumpat oleh orang-orang sebelum blok mereka yang jalannya mereka tambal dengan tanah.
Tukang steam tersenyum saja, itu memudahkannya karena tidak perlu bersih-bersih bekerja mencuci truk. Dia hanya perlu mencuci ban dan kepala truk saja.
*  *  *
Kami bertolak ke Lampung setelah selesai pembayaran  kami terima di tempat penerimaan, Tangerang. Dan kami menyeberang dari Merak dengan perasaan senang membawa hasil kerja kami untuk kami berikan kepada isteri dan anak-anak kami di Lampung.
Matahari menyalak panas, saat kami kembali harus melewati antrean panjang, tempat dimana terminal ludah demi ludah mampir di setiap mobil yang tidak mau memberikan uang tanda terima kasih. Seolah lurah di setiap desa di seluruh Indonesia, tanda tangan yang sesungguhnya adalah tugasnya sebagai pelayan masyarakat, walau tanpa kata namun setiap lurah menerima uang terima kasih setelah melakukan tanda tangan setiap urusan warganya. Ah! Kenapa aku semakin ngelantur memikirkan hancurnya negeri ini?
Tibalah giliran kami, aku giliran menyetir. Mulailah orang-orang antre seolah menadah uang seribuan dari para sopir.
”Sudah, tidak usah memberi sepeserpun,” Bejan menatapku acuh.
Aku hanya diam, melewati satu persatu para penadah itu, hingga umpatan demi umpatan yang tak pantas di dengarkan terlontar, ditambah puluhan lendir ludah-ludah kembali membabi buta di mobil truk kami.
“Cuih!” seorang lelaki kurus penuh amarah meludah keras, dan sengaja mengenai wajah Bejan.
“Sial! Berhenti Man. Aku sudah tak tahan.”
“Jangan turun Jan...” perkataanku hilang, mobil yang memang jalan dengan pelan dan Bejan dengan mudah turun dari truk.
“Jangan Jan!” dan terlambat. Bejan yang sudah marah langsung turun dan memukul lelaki kurus itu. Aku menghentikan mobil dan turun. Namun, saat hendak mencapai Bejan, dia telah dikeroyok oleh para peludah itu, membela si kurus. Beberapa orang semakin banyak yang datang dan menghajar membabi-buta. Bejan hilang dalam kerumunan, aku memaksa merangsek, namun beberapa pukulan nyasar mengenai tubuhku. Aku kesakitan terjatuh, merangsek penuh kekuatan. Gagal, kucoba lagi, dan gagal lagi. Aku pun memukul sembarangan karena kalut.
“Hentikan!” seorang polisi datang melerai. Semua orang mulai bubar, tubuhku terkena beberapa pukulan hingga menciptakan bilur. Kerumunan terkuak, mereka mengumpat penuh kesumat sambil meninggalkan Bejan yang berlumuran darah. Polisi tak berbuat apa-apa kepada para peludah, tak berani atau tak penting?
Aku tergopoh mengangkat tubuh Bejan yang lunglai, polisi itu membantuku memasukkan Bejan ke mobil. Kulihat dia bersimpati. Aku mengucapkan terima kasih dan menuju rumah sakit terdekat.
*  *  *
Bejan langsung diurus di IGD, bajuku berlumuran darah, badanku pun masih linu karena beberapa pukulan tadi. Bagaimana aku harus mengabarkan pada keluarga Bejan? Kepalaku seolah berputar-putar.
Saat itulah, di jalanan depan Rumah Sakit terlihat polisi menata jalan. Mobil-mobil yang menyeberang dipaksa menyingkir karena ada kendaraan dinas hendak lewat. Banyak yang mengumpat, pejabat lewat namun menyusahkan apalagi kalau makan uang rakyat.
Aku jadi teringat pesan Kiai waktu Maulidan kemarin di masjid, saat itu aku bersama bejan mengikuti kajian itu. Dahulu kala, khalifah Umar berkata, “Siapa saja yang terjatuh dengan kendaraan atau berjalan karena lubang jalan, maka itu menjadi tanggung jawabku  sebagai pemimpin dan aku yang menanggung dosa atas kejadian itu.” Lalu, bagaimana di negeri ini, kematian terjadi karena kecelakaan tak terhitung, Bejan temanku adalah salah satu korbannya.
Aku tak tahan lagi, aku berlari menuju truk yang masih penuh dengan ludah-ludah itu. Aku menyetir dengan kecepatan penuh, berbelok ke kanan dan menghadang iring-iringan yang tengah menujuku. Polisi bermotor yang hendak mengamankan berteriak-teriak kearahku, tak kupedulikan lagi. Mereka yang mengalah dan menyingkir, daripada terlindas trukku.
Barisan dinas itu berada di depanku, seseorang menembak ban trukku sehingga oleng. Aku  mengerem, keributan terjadi, jeritan demi jeritan orang. Polisi berhamburan kearahku,  menyergapku, aku berteriak-teriak. Seorang lelaki berjas keluar dari salah satu  mobil, dia adalah Gubernur. Aku berteriak padanya, namun suaraku hilang karena pukulan demi pukulan mendera kepalaku.
“Kau! Bagaimana kau mempertanggungjawabkan ludah-ludah di mobilku!” dan pukulan terakhir membuatku seolah hilang dari dunia ini.
badar
Share this article :

+ komentar + 1 komentar

16 Desember 2011 pukul 01.12

kerennn,,,,top bget,,itulah mirisnya keadaan negeri kita..kapan ya para pemimpin itu tobat???

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. (Muhammad) Badarudin - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger